Semenjak 3 bulan lalu gw pindah dari Cikarang ke Jakarta (26 Juli 2007), yang gw rasakan saat bepergian adalah macet, ngebosesnin, lama. Padahal jarak yang ditempuh gak jauh-jauh amat. Salah satunya kalo menurut gw penggunaan kenderaan pribadi yang gak ke kontrol. Gw pernah tahun 2006 yang lalu ngobrol-ngobrol sama temen gw orang jakarta yang tinggalnya di Tebet. Katanya dia, dulu pas dia SD tahun 1996-an jalan disana itu luas banget dan sangat nyaman. Dalam benak gw kayaknya seperti jalan yang ada di depan kampus gw, President University yang lebar. Tapi, setelah 10 tahun kemudian, jalan tersebut seolah sempit. Mobil-mobil udah pada banyak. Budaya jelek Indonesia kali ye… makin banyak mobil dianggap kaye. Setahu gw, di Jakarta ada yang 1 rumah punya 2,3,4 atau bahkan 5 mobil. Artinya… 1 kepala, 1 mobil. Kontras banget, kalo mau Indonesia dibilang negara miskin, kok Jakarta macaet karena saking banyaknya mobil? Paradox kalo gw bilang. Saat gw baca buku Edensor-nya Paman Ikal, disisi lain Jepang sebagai terhutang, menggunakan bus sewaan datang ke meja perundingan, sedangkan Indonesia sebagai penghutang dateng dengan limosin. Ah, payah kali….
Ok, back to topik. Jadi, untuk mengurangi lalu lintas, menurut versi gw pertama babat habis penggunaan mobil pribadi yang masuk jakarta. Dari segi pertumbuhan jalan vs. pertumbuhan kendaraan aja sudah kalah. Oleh karena itu, meniru cara KB, gw saranin, pemerintah Jakarta menindas habis para pemilik kendaraan pribadi. Diberi pajak tinggi untuk memasuki jalan-jalan di jakarta. Untuk tahap awal, berlakukanlah seperti 3 in 1. Setiap mobil pribadi yang masuk harus punya stiker yang mana stiker itu sebagai approval kalo dia udah bayar pajak masuk jalan di jakarta. Prinsip KB sudah terbukti mengurangi pertumbuhan penduduk Indonesia vs Lahan yang ada. Kenapa gak dipake untuk mobil? Dengan prinsip ini, pertumbuhan mobil di Jakarta bisa ditekan vs pertumbuhan jalan. Kurangi mobil juga berarti mengurangi kesenjangan, mengurangi juga polusi udara. Dan satu lagi, mengurangi kecelakaan. Jujur, kalo gw benci sama pemobil2, karena dengan angkuhnya dan kalo menurut gw arogan sama pejalan kaki.
Sudah saatnya, budaya bermobil jadi budaya kotor, dijelekkan, kalo perlu jadi budaya tabu. Apa untungnya punya mobil, apa lagi di jakarta, mahal, macet pulak, begitulah kiranya mindset yang perlu kita bentuk dengan adanya penerapan pajak lebih di jakarta terhadap pengguna mobil pribadi. Gw sih setuju banget dengan adanya busway, apalagi ngambil badan jalan. Karena dengan itu makin memperparah kemacetan karena panggunaan kendaraan dan memberi prioritas lebih ke pengguna kendaraan umum, mereka jadi lebih cepat, nyaman(kayaknya sekarang udah gak juga, gw berdiri terus malah) dan murah (bisa keliling Jakarta dengan tiga ribu lima ratus).
Pertanyaan yang terlintas di gw. Emang pemerintah Jakarta, apalagi DPDR-nya mampu? Yang mau bikin aturan aja punya mobil lebih dari satu. Ah, paradox lagi.

